Kucumbu Tubuh Indahku dihujani Pro Kontra LGBT

Deskripsi singkat: Film karya Garin Nugroho, Kucumbu Tubuh Indahku, dihujani banyak kontroversi karena mengandung tema LBGT.

Kucumbu Tubuh Indahku dihujani Pro Kontra LGBT

Film terbaru dari Garin Nugroho, Kucumbu Tubuh Indahku, yang tayang sejak tanggal 18 April 2019 lalu diliputi banyak kontroversi di Indonesia. Film tersebut dikecam oleh sebagian orang karena menampilkan LBGT. Trailer film Kucumbu Tubuh Indahku ini saja sudah penuh dengan kontroversi karena menampilkan tema LBGT.

Menampilkan Tema LBGT

Salah satu komentar dari netizen, misalnya, Film LBGT a*****, mati aja kalau LBGT b******. Merusak anak-anak bangsa. Ada juga yang menulis, Perusak moral. Bikin rusak generasi.

Bahkan, sekarang ini sudah ada petisi yang menolak film tersebut dengan membuat suatu petisi. Gawat! Indonesia Sudah Mulai Memproduksi Film LGBT dengan judul Kucumbu Tubuh Indahku,itu lah judul petisi di situs Change.org.

Petisi ini pasalnya ditujukan pada Komisi Penyiaran Indonesia dan telah ditandatangani oleh lebih dari 53.000 orang. Isinya tak macam-macam, Cuma sebuah imbauan untuk memboikot film tersebut. Dilansir dari CNN Indonesia, mereka sudah berusaha menghubungi Garin dan juga produser Kucumbu Tubuh Indahku ini, yaitu Ifa Isfansyah, dan juga publisis dari film yang sekarang dihajuni kritik dan kontroversi ini. Namun konfirmasi dan komentar belum bisa didapatkan.

Cerita Kucumbu Tubuh Indahku

Lalu, apa sebenarnya inti cerita dari film Kucumbu Tubuh Indahku ini? Cerita dari film ini sebetulnya tentang penari Lengger yang bernama Juno. Sejak dirinya ditinggal oleh ayahnya, Juno akhirnya bergabung dengan sanggar tari Lengger. Tidak disangka, tarian tersebut akhirnya menbuat dirinya menapaki jalan hidup yang berbeda.

Perjalanan hidupnya tak hanya berbeda namun juga berliku-liku. Dan sampai pada akhirnya, Juno dapat memahami dan juga menerima keindahan hidupnya sebagai seorang penari Lengger.

Tari Lengger merupakan budaya asli dari Indonesia yang tepatnya berasal dari Banyumas. Tarian tersebut mengharuskan penari-penarinya menampilkan sisi maskulin dan juga feminine dalam satu tubuhnya. Umumnya, tarian tersebut dipentaskan oleh lelaki, yang mana di kesehariannya mengubah diri jadi seorang perempuan.

Mereka menari, berlenggok dan berlaku dengan gemulainya layaknya perempuan.

Garin sendiri mengakui bahwa dirinya membuat film Kucumbu Tubuh Indahku ini atas cerita hidup seorang penari Lengger bernama Rianto. Tubuh kita ini menyimpan ingatan. Rangkaian ingatan itu menjadi sebuah sejarah manusia, sejarah tubuh dan trauma-traumanya sendiri yang tidak hanya personal, namun juga merupakan representasi sosial dan juga politik yang dialami oleh seorang individu. Seorang penari Lengger yang mesti menampilkan sisi maskulin dan juga feminine dalam satu tubuh merupakan suatu pergolakan ingatan tubuh yang mana sangat menantang, ungkap Garin yang ditulis dalam keterangan pers.

Ini lah yang saya tangkap dari cerita hidup Rianto. Dan ini yang ingin saya coba untuk visualisasikan ke dalam sebuah film, kata sutradara Daun di Atas Bantal tersebut.

Produser Ifa Isfansyah pasalnya menganggap Kucumbu Tubuh Indahku ini akan indah secara visual. Pertama kali mendengar ide ini, saya langsung tertarik karena ceritanya yang sangat menggelitik. Cerita tentang perjalanan tubuh kita, ungkapnya dalam keterangan pers juga.

Film Kucumbu Tubuh Indahku ini tayang sejak tanggal 18 April 2019 dan sudah mendapatkan beberapa penghargaan internasional. Penghargaannya datang dari berbagai negara misalnya Italia, Meksiko, Australia dan Prancis. Tidak hanya itu, film Kucumbu Tubuh Indahku ini juga sudah ditayangkan di lebih dari 30 festival film yang digelar di seluruh dunia. Sampai hari ini film ini tinggal tersisa tayang di setidaknya 2 bioskop saja di Jakarta.